Dokter: Pengobatan Demensia dengan Mengontrol Tekanan Darah
28 Februari 2023
Ilustrasi | Shutterstock Image
KlikQu – Demensia atau menurunnya daya ingatan pada manusia akibat hipertensi merupakan hal yang harus diantisipasi. Berbeda dengan faktor biologis, demensia akibat hipertensi dapat menyerang mereka yang masih berusia 40 tahun atau tergolong usia muda.
Ahli Ginjal dan Hipertensi dr. Afiatin, Sp.PD-KGH berujar, jika seseorang terkena demensia akibat hipertensi maka hal itu merupakan tanda telah terjadinya komplikasi di dalam tubuh. Oleh karenanya perlu penanganan dokter lebih lanjut agar komplikasi bisa diredam dan laju demensia bisa diperlambat.
“Kalau hipertensi itu untuk mencegah terjadinya komplikasi jelas tekanan darahnya harus diturunkan mencapai target normal. Jadi dia harus komprehensif mulai dari atur pola makan, obat teratur, dan kontrol untuk deteksi dini komplikasi-komplikasinya,” kata dr. Afiatin ketika berbincang dengan KlikQu, Sabtu (11/1).
Sementara itu, jika seseorang mengalami demensia akibat stroke—akibat hipertensi—maka langkah pengobatan yang harus dijalani ialah dengan meningkatkan metabolisme sel otak sehingga demensianya tidak tambah berat. Sebagaimana diketahui, hipertensi yang menyebabkan stroke mengakibatkan sel-sel otak mati.
Meskipun begitu, terkait kesembuhan seseorang yang terkena demensia, dr. Afiatin menyebut bahwa semuanya tergantung pada dampak yang terjadi di jaringan otak. Hal itu harus dipastikan apakah jaringan yang terganggu mengalami kekurangan aliran darah bisa kembali seperti semula.
“Kalau demensianya karena hipertensi di usia 40 tahun sudah ada (potensi demensia) karena itu sudah komplikasi (di organ dalam),” ujarnya.
Di sisi lain, dikutip dari pelbagai sumber, ada beberapa metode pengobatan demensia. Seperti mengobati masalah penyakit awal, memperbaiki pola hidup, menggunakan obat-obatan untuk hipertensi, diabetes, kolestrol, dan lainnya, serta menjalani beberapa terapi fisioterapi, okupasi, psikologis, dan stimulasi kognitif.
Tentunya, untuk mendapatkan pengobatan yang lebih komprehensi, dr. Afiatin mengajak pasien untuk mendiskusikannya ke dokter. Langkah-langkah pengobatan dari dokter tentunya akan membuat pasien merasa nyaman dan pengobatan berjalan efektif. (ATR)